Loncat Lagi?
daengrusle July 12th, 2008
Dalam salah satu posting saya di blog terdahulu, ini dan ini, saya pernah berikrar untuk menghentikan kebiasaan profesional saya yang cukup buruk di mata sebahagian orang; kutu loncat. Berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, apalagi berpindah kota, bukanlah sesuatu yang gampang bahkan sangat merepotkan. Bukan hanya persoalan beratnya memindahkan satu keluarga, tapi juga mesti beradaptasi lagi dengan lingkungan kerja yang baru. Belum lagi jikalau ternyata working culture di tempat baru tidak se’bagus’ yang diharapkan. Apalagi kalau rupanya kita berhadapan dengan team yang tidak sehangat yang diinginkan. Bukan soal untuk belajar assignment baru buat saya, tapi berhadapan dengan dinamika sosial yang membuat saya terkadang was-was. Tidak satu dua kali saya berhadapan dengan ‘acceptance’ yang tidak acceptable. So, mesti siap dengan pemikiran Expect the Unexpect, terutama untuk hal-hal non teknis. Ini resiko terbesar yang harus saya hadapi.
Kenapa mesti pindah lagi? Alasannya sebahagian besar justru sangat teknis. Alasan detail tentu tak etis disebutkan, tapi sekedar berbagi substansi nya saya kira tidak berdosa. Saya butuh penyegaran, dan mungkin, saya merasa ‘gagal’ di tempat sekarang. Penyegaran, atau lebih tepatnya mengembalikan saya kembali ke birahi profesional yang selama ini saya kejar. Yang mana saya merasa gagal mendapatkannya di tempat sekarang. Bukan tidak berusaha untuk bersyukur dan nerimo atas apapun suratan karir saya, tapi umur dan potensi saya mungkin tersia-sia hanya untuk menandaskannya di sesuatu bernama ‘nasib’. Jadi kepindahan ini karena kecewa, sikap negatif? Saya akui sebahagian besar mungkin iya, tapi saya berusaha berpikir positif. Banyak rentetan konsekuensi yang nanti akan saya jalani selepas kepindahan ini. Konsekuensi2 ini justru membuat saya menjadi bergairah kembali. Tidak apa kalau ada unsecurity prospect di depan, tapi bukankah semua hal di dunia ini juga unsecure kalau kita tidak berusaha memaintainnya dengan baik. So, no pain no gain.
Di tempat baru, saya mungkin akan mendapatkan assignment yang cukup menantang. Resiko besar terbentang di depan, tapi challenge untuk memperkuat sendi profesionalisme juga tertancap di depan sana. Portofolio proyek saya akan bertambah tentunya. Tinggal bagaimana saya memaintain dengan baik, untuk kemudian menjadi amunisi yang diperhitungan di medang pertempuran berikutnya. Proyek yang nantinya saya akan terlibat adalah proyek pengembangan lapangan yang sudah eksis. Semoga banyak ilmu yang bisa saya serap, selain fulus yang lumayan lah untuk menambah pundi-pundi tabungan masa depan buat Mahdi dan Maipa. Selain itu dinamika ibu kota mungkin akan membuat saya mengikuti pusaran ketatnya arus persaingan disana. Saya hanya perlu berusaha dan berdoa semoga menjadi pelaut yang ulung di tengah samudera ibu kota yang menggelora.
Apakah tempat yang saya tuju nanti adalah pelabuhan terakhir? Hmm, saya meragukan itu, walaupun merasa ada kemungkinan ke arah sana. Tapi saya tetap berhasrat untuk menjadi nahkoda di sebuah kapal kecil, tempat dimana saya bisa mengarahkan kemudi dengan kreatif dan berani, atau melempar sauh di mana saya bisa menjaga kapal dengan sebaik mungkin agar tetap bisa bertahan di antara gelombang yang sedahsyat apapun.
Satu hal yang paling membahagiakan buat saya pribadi, kepindahan ini akan mendekatkan saya ke kakanda tercinta. Saya bayangkan di setiap akhir pekan, akan selalu menyempatkan diri mengunjungi nya. Dan bercerita banyak hal seperti dulu. Amin.
Doakan saya.
Popularity: 14% [?]
- Family , Sejarah , Aku , Umum
- Comments(11)
Apa salahnya menjadi the perfect guys? Ada salahnya. Di tengah masyarakat yang serba tak sempurna, serba kompromi kepada ke-terbatas-an Anda akan divonis berada hidup di awang-awang, dengan menjadi manusia ‘aneh’. Kalau anda merasa orang yang sadar dan normal, maka ketika Anda berada di dalam quadran masyarakat yang serba tak sempurna, maka Anda adalah setitik noktah koordinat yang tidak bersinggungan dengan garis linear apapun, kecuali di interpolasi sedemikian rupa hingga seolah-olah Anda berada di dalam struktur dan sistem nya, hanya karena keberadaan fisik Anda diakui dalam bentuk statistik. Ya, Anda adalah manusia sinting di tengah masyarakat waras. Masyarakat yang waras yang lebih suka berdalih bahwa kemanusiaan itu berarti ketidaksempurnaan. Lihatlah pemeo masyarakat “rocker juga manusia, presiden juga manusia, artis juga manusia, hingga ulama juga manusia”. Semuanya adalah penegasan atas sikap permisif atas ketidak sempurna-an kapasitas moralitas seseorang. Namun di saat yang lain, masyarakat jenis ini mudah dihinggapi sikap munafik, karena masih saja menyenangi menggunjingkan kebobrokan dan kemerosotan moral perilaku manusia di dalam nya.












